Sebuah retorika klise kembali menggema di kampus Manglayang ini. Masih adakah keteladanan? Keteladanan untuk bekal eksistensi Sekolah Pamong Praja. Ok, dalam membicarakan tentang keteladanan maka kita akan bersentuhan dengan para senior kita. Karena keteladanan identik dengan orang yang lebih tua yang (seharusnya) mencontohkan kebaikan kepada juniornya. Kenyataanya, keteladanan tidak selurus itu dan tidak sesederhana itu.
Dalam sekolah kepamongan (IPDN, RED). Mata rantai sebuah keteladanan adalah harga mati. Kalau sampai mata rantai itu putus, maka hidup atau tidaknya jiwa kepamongan dalam sekolah ini patut diragukan. Karena keteladanan adalah media untuk mengaktifkan aturan. Jika keteladanan itu rusak, aturanpun akan rusak. Satu hal yang perlu kita sadari bersama. Keteladanan dalam menjalankan aturan memang berat. Saking beratnya, sampai-sampai tubuh yang sekekar seorang kader POLPRA maupun PATAKA, belum tentu bisa meloading dengan cepat.
Sekarang. Ketika kampus hanya dihuni oleh dua angkatan. Ketika kondisi kampus memiliki criteria A untuk mempraktekkan keteladanan karena ada junior dan senior dan ketika sekolah ini masih punya perarturan, sekali lagi . . . ketika sekolah ini masih punya aturan. Toh tetap saja keteladanan begitu sukar untuk ditemukan, sukar untuk dilakukan, dan sukar untuk ditanamkan dalam jiwa. Keteladanan tidak melulu hanya digerakkan oleh senior. Tapi tetap saja senior harus punya posisi selangkah lebih maju daripada junior. Termasuk dalam hal keteladanan. Hidup matinya keteladanan tergantung dari senior. Bukan berarti junior dilarang terlibat. Bisa saja junior juga ikut andil.